Informasi Asik, Uncategorized

Sejarah Bordir Di Tasikmalaya

Hay… sobat oleholehtasik.com, Industri bordir di Tasikmalaya sudah dikenal sejak akhir penjajahan Belanda sekitar tahun 1940, yang diperkenalkan oleh Hj. Umayah dari kampung Tanjung, Kawalu yang sempat belajar membordir pada seorang keturunan Tionghoa bernama Lie-Juki. Awalnya kerajinan ini hanya untuk memenuhi kebutuhan busana dalam wanita yang kemudian berkembang menjadi rok dan kebaya encim.

Mesin yang digunakan untuk membordir pada awalnya adalah mesin bordir manual (mesin yang dioperasikan menggunakan kayuhan kaki). Sekitar tahun 1970 bordir Tasik semakin berkembang, produknya pun semakin beraneka ragam seperti mukena, gamis, jilbab, lenan rumah tangga bahkan gaun pesta. Hiasan bordir yang terdapat di Tasikmalaya merupakan serapan dari kebudayaan Cina yang dapat diamati pada motif bordir khas Tasikmalaya yang berupa motif flora seperti bunga mawar,melati, lotus, peony, dan kenanga.

Pada motif fauna seperti ular, naga, dan kupu-kupu meskipun motif fauna ini sangat jarang digunakan. Motif flora yang paling menjadi ciri khas pada bordir Tasikmalaya adalah motif bunga melati. Untuk motif bordir yang klasik motif bunga melati tersebut terbentuk dari lilitan disekitar kelopaknya, orang-orang setempat menyebutnya motif melati uter atau sama dengan krancang melati, selain bunga melati bordir krancang merupakan ciri khas dari bordir tasik lainnya.
Klasifikasi Bordir pada perkembangannya terbagi dalam 3 generasi yakni :

  1. Generasi pertama yakni industri kerajinan bordir yang pada awalnya menggunakan mesin bordir manual yang sekarang ini sudah mulai ditinggalkan tetapi nilai estetisnya cukup tinggi.
  2. Generasi kedua yakni industri kecil kerajinan bordir dengan menggunakan mesin jahit yang agak modern yakni menggunakan mesin juki yang sekarang banyak digunakan oleh perajin.
  3. Generasi ketiga yakni industri bordir dengan menggunakan mesin komputer.
  4. Terdapat beberapa perbedaan mendasar mengenai teknik yang dapat dilakukan pada pembordiran generasi pertama (mesin bordir manual) dan generasi kedua (mesin juki) . Dalam beberapa hal, pembordiran yang dikerjakan dengan mesin bordir manual ternyata lebih flexibel dan mampu mengakomodasi beberapa teknik yang tak dapat dikerjakan dengan mesin juki, seperti dalam pembordiran krancang yang dikerjakan langsung pada kain utama dan membuat uteran, tetapi dengan semakin tingginya permintaan masyarakat luas terhadap bordiran, mesin bordir manual pun ditinggalkan.

Sumber missdongdong
di salin Kamis 23 April 2020, 19:41 WIB

oleholehtasik.com

oleholehtasik

temanasikditasik

Nah….. Fashionmu ini berkembang dengan berbagai model dan kamu bisa cek di etalasenya oleholehtasik.com, silahkan cek langsung otw ya.. Klik Dsini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.